Home / Sosial & Budaya / KAUM MUDA KATOLIK – KRISTEN: PANCASILA ADALAH MANDAT BUDAYA UMAT KRISTIANI

KAUM MUDA KATOLIK – KRISTEN: PANCASILA ADALAH MANDAT BUDAYA UMAT KRISTIANI

Kiri: Tigor Mulo Horas Sinaga, Ketua Bid. Pemuda PGLII DKI Jakarta
Kanan: Bondan Wicaksono, Ketua Pemuda Katholik DKI Jakarta.

Menjelang Natal 2019 dan Tahun Baru 2020, dua tokoh pemuda menyatakan pendapat terkait perlunya partisipasi aktif kaum muda Kristen dan Katolik dalam membangun masyarakat. Ketua Pemuda Katolik DKI Jakarta Bondan Wicaksono dan Ketua Bidang Pemuda Persekutuan Gereja dan Lembaga Injili Indonesia (PGLII) DKI Jakarta Tigor Mulo Horas Sinaga mengajak para pemuda Nasrani turut pedulikan bangsa.

Horas Sinaga mengatakan, “Menjelang Natal 2019 dan Tahun Baru 2020, kita perlu ingat bahwa setiap pengikut Kristus di mana pun ia berada mendapatkan dua macam kewarganegaraan sekaligus, yaitu: warga negara dunia dan warga Kerajaan Surga,” Senayan, Jakarta (22/12/2019).

“Menjadi warga Kerajaan Surga merujuk pada keyakinan bahwa sebagai pengikut Kristus kita tidak hanya akan hidup di dalam dunia ini saja, tetapi kita memiliki tempat lain yang bersifat kekal dan sempurna, sebuah tempat yang Tuhan janjikan kepada kita sebagai pengikut Kristus. Sementara sebagai warga negara dunia, pengikut Kristus diundang dalam ikatan sosial dan kemasyarakatan di antara sesama manusia,” katanya.

Status kewarganegaraan ganda tersebut, Horas yang juga Direktur Eksekutif Generasi Optimis Research & Consulting (GORC) ini mengakui akan menjadi tantangan tersendiri bagi para pengikut Kristus di Republik ini, sebab mereka diundang untuk hidup bersama dan berinteraksi dengan harmonis dengan masyarakat di negara yang dikenal paling plural sedunia ini.

Horas menambahkan, “Sebagai pengikut Kristus secara otomatis kita mengemban dua mandat yang Allah berikan, yaitu Mandat Injil dan Mandat Budaya.
Mandat Injil adalah perintah bagi kita untuk mewartakan Kabar Baik, yaitu keselamatan yang Allah berikan hanya melalui Yesus Kristus, sementara Mandat Budaya adalah perintah Kristus agar para pengikut-Nya menjadi terang dan garam dalam masyarakat.”

Ia menyambung, “Bahkan sejak sebelum Proklamasi Kemerdekaan, ada anak-anak Tuhan yang terlibat aktif di dalam membangun masyarakat secara signifikan dan menjadi teladan dalam mengemban Mandat Injil dan Mandat Budaya, sebut saja Albertus Soegijapranata dan Todung Sutan Gunung Mulia.”

Mandat budaya yang perlu umat Kristen dan Katolik upayakan secara nyata pada masa ini adalah menjalankan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Horas mengatakan, “Pancasila saat ini sudah pada tahap lampu kuning, jika kita semua rakyat Indonesia tidak segera sadar, maka tahun 2030 akan menjadi tahun yang menyedihkan bagi Republik ini.”

Atas dasar itu, menurut Horas, upaya menjalankan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari merupakan prioritas bagi umat Nasrani dalam mensyukuri Natal 2019 dan memasuki 2020. Ia menyebut hal ini sebagai ikhtiar pembumian dan habituasi Pancasila dengan nafas Kristiani.

*Kaum Kristiani Bangkit bagi Pancasila*

Sejalan dengan pernyataan Horas, Ketua Pemuda Katolik DKI Jakarta Bondan Wicaksono, melihat umat Nasrani di Indonesia perlu lebih berpartisipasi aktif dalam ikhtiar pembumian dan habituasi nilai-nilai Pancasila sebagai ekspresi iman Kristiani mereka.

“Realitas hari-hari ini masih banyak warga gereja di Indonesia yang belum sadar pada perannya sebagai garam dan terang di tengah-tengah masyarakat, sehingga masih belum maksimal dalam membumikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari,” kata Bondan.

“Bayangkan jika negara ini tidak dijaga oleh nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan praktis, maka negara ini tentu akan lebih kacau keadaannya. Makin banyak yang intoleran dan segala hal buruk lainnya,” imbuhnya.

Oleh sebab itu, menurut Bondan, kaum Kristiani dari berbagi denominasi di Indonesia perlu bangkit bagi Pancasila. “Umat Katolik dan Kristen selayaknya bangkit dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam lingkungan kerja, masyarakat, dan keluarga,” kata Bondan.

Pada saat yang sama, Horas, Pria Batak yang saat ini fokus pada gerakan pembumian dan habituasi Pancasila mengatakan, “Beberapa intelektual Kristen bahkan terlibat aktif dalam Panitia Persiapan Undang Undang Dasar, misalnya: Sam Ratu Langie, Johannes Latuharhary, Yap Tjwan Bing, dan Alexander Andries Maramis.”

“Kita bersyukur, tahun 2020 negara kita merayakan 75 tahun kemerdekaan. Sejak tahun 1945 selalu ada partisipasi aktif para pengikut Kristus di Republik ini dalam kabinet, misalnya Johannes Leimena, Ignatius Joseph Kasimo, Hering Laoh, Martinus Putuhena, Koesnan, Frans Seda, Radius Prawiro, dan yang lainnya, mereka semua Pancasilais,” kata Horas.

“Menjelang Natal 2019, Tahun Baru 2020, dan perayaan kemerdekaan Republik Indonesia ke-75 tahun depan, kita sekali lagi diundang untuk merenungkan lagi partisipasi kita dalam membangun negeri dan bersinergi dengan anak-anak bangsa lainnya demi merawat bagi Ibu Pertiwi. Ada nilai-nilai Pancasila yang perlu kita amalkan dengan lebih serius,” kata Horas yang juga pengamat politik dan intelijen ini.

“Sebagai pengikut Kristus, apa yang kita bagikan bagi masyarakat Indonesia? Sudahkah kita berpartisipasi dalam membangun bangsa ini? Kita di sini juga yakin bahwa kewarganegaraan kita bukan hanya sebagai warga Kerajaan Surga saja, tetapi juga sebagai warga negara Indonesia. Kita seutuhnya Kristen, seutuhnya Indonesia,” pungkas Horas.

#CERITA PANCASILA #PEMUDA KHATOLIK #KRISTEN #TIGOR MULO HORAS

About admin

Check Also

Ananda Ridwan Aji Maulana, Bagi Warga Tidak Mampu Dari Rawabuaya

Indonet7.com-Yayasan Anantha Rahardja ( Yanara ) melakukan bakti sosial pemberian bantuan kursi roda untuk ananda …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

if (function_exists('rns_reactions')) { rns_reactions(); }