Home / Berita dalam peristiwa / SEKJEN GO INDONESIA MENAKAR KONSTELASI POLITIK SURABAYA

SEKJEN GO INDONESIA MENAKAR KONSTELASI POLITIK SURABAYA

Menuju pemilihan Wali Kota (Pilwali) Surabaya 2020 publik makin hangat membicarakan nama-nama calon pengganti Tri Rismaharini. Mulai figur dari golongan nasionalis, religius, akademisi, hingga profesional. Hingga kini, siapapun calon dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dinilai berada di atas angin dalam bursa calon pemimpin Kota Pahlawan mendatang.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) GO Indonesia, Tigor Mulo Horas Sinaga, mengatakan sejatinya Surabaya adalah basis massa nasionalis. “Kultur di kota Pahlawan itu beda dengan Jakarta. Di Surabaya mayoritas penduduknya nasionalis, tak mudah terprovokasi, jadi wakil dari partai nasionalis punya kesempatan lebih besar untuk memenangkan Pilwali tahun depan,” ujarnya Kamis (07/11/2019).

“Jika calonnya seorang yang religius, maka dia haruslah seorang religius yang nasionalis. Saya melihat itu ada pada figur dengan latar belakang Nahdliyin. Saya pikir di Surabaya gudangnya tokoh-tokoh nasionalis-religius ya,” imbuh Horas.

*Menakar Gus Hans*

Zahrul Azhar Asumta (Gus Hans) adalah salah satu Nahdliyin yang santer dikabarkan akan maju dalam Pilwali mendatang. Ulama muda yang juga Jubir Khofifah Indar Parawansa pada Pilgub 2018 lalu itu memiliki potensi besar yang membuatnya diperhitungkan sebagai Cawali Surabaya.

Horas mengatakan, “Gus Hans punya kelebihan-kelebihan yang membuatnya patut diperhitungkan di Pilwali Surabaya. Beliau seorang yang smart, juga seorang religius yang nasionalis. Itu cocok dengan karakter demografi masyarakat Surabaya.”

Mantan tenaga ahli fraksi PDIP di DPR RI itu mengaku sulit menemukan figur kuat dari Golkar yang mampu bertanding dengan nama-nama besar dari PDIP di Pilwali Kota Pahlawan. Horas menilai Gus Hans menjadi satu-satunya figur yang paling siap dan paling populer dalam diskursus Pilwali Surabaya

“Sejauh ini saya belum melihat ada figur lain yang kuat seperti Gus Hans di Golkar. Mungkin karena sudah beberapa bulan terakhir elektabilitas Gus Hans makin naik. Kalau saya berbicara dengan beberapa komunitas, nama Gus Hans selalu muncul. Saya pikir itu pertanda yang bagus untuk beliau,” kata Horas.

*Calon dari PDIP*

Hingga kini para peserta konvensi yang diselenggarakan DPW PDIP Jawa Timur masih belum ada yang menerima rekomendasi dari DPP PDIP. Banyak nama yang diprediksi menjadi penerima rekomendasi, tetapi hal itu masih sebatas perkiraan matematis politik.

Horas mengatakan, “Sampai hari ini masih belum ada kepastian siapa yang akan direkom DPP PDIP. Banyak yang menjagokan Pak Whisnu Sakti, ada juga yang mendukung Pak Sutjipto Angga, Pak Eddy Tarmidi, atau Pak Untung Suropati, bahkan Mas Eri Cahyadi. Sebaiknya menunggu keputusan dari DPP PDIP saja.”

Salah satu peserta konvensi, Sutjipto Angga dikabarkan memberi jaminan penyelesaian urusan Surat Ijo yang telah menjadi problema selama puluhan tahun bagi warga Surabaya. Terkait hal itu, Horas mengatakan Angga harus bisa menunjukkan kepada publik apa yang ia janjikan bisa dipercaya dan masuk akal.

“Pak Angga perlu menjelaskan rencananya secara terbuka kepada masyarakat. Karena apa yang beliau janjikan bisa dibilang terlalu berani. Tapi janji menyelesaikan Surat Ijo adalah nilai lebih dari Pak Angga. Lagi pula politisi memang dituntut memperjuangkan hak-hak masyarakat, yang penting bukan memberi janji kosong,” jelas pemerhati politik dan intelijen itu.

*Calon-calon Potensial*

Pada saat yang sama Horas mengatakan partai-partai lain juga memiliki peluang yang sama, karena dalam politik segala sesuatu adalah niscaya. Sekjen GO Indonesia itu mengatakan PKB, Gerindra, PSI, Demokrat, dan NasDem berpeluang memberi kejutan di Pilwali karena politisi-politisi potensial yang mereka miliki.

“PKB tentu punya orang yang terbaik, begitu juga partai-partai lain. Akhir-akhir ini Ahmad Dhani dikabarkan juga mau maju ke Pilwali. Pak Awey dan Gus Ali Azhara juga mau maju dari NasDem. Cak Dhimas Anugrah dari PSI juga populer, kawan-kawan di partainya juga support dia,” kata Horas.

Situasi di Surabaya masih cair menurut Horas. Banyak aspek yang perlu dipertimbangkan oleh partai-partai, termasuk wacana koalisi, agar pasangan calon yang mereka usung memenangkan Pilwali tahun depan.

Mengenai kabar bertandemnya Gus Hans dari Golkar dengan Dhimas Anugrah PSI dalam Pilwali Surabaya 2020, menurut Horas hal tersebut masih tahap komunikasi awal yang lumrah dalam konteks percakapan politik.

“Ya ini politik, komunikasi itu kan biasa. Apa lagi Gus Hans itu ulama NU yang Pancasilais. Banyak yang bilang beliau sangat cocok didampingi Cak Dhimas dari PSI, partai yang memang sejak awal titik pijaknya jelas, yaitu melawan korupsi dan intoleransi,” ujar Horas.

Ia menambahkan, “Pula, kita harus berpolitik secara santun, indah, dan edukatif. Komunikasi dan gaya berpolitik kita itu dilihat publik, nah saya melihat Gus Hans dan Cak Dhimas berhasil mendemonstrasikan seni politik yang indah.”

Horas juga mengingatkan dalam politik hendaknya para politisi menjaga hati dari iri dengki jika kompetitor politiknya lebih populer.

“Yang terpenting, dalam politik hati harus murni, jangan sampai haus kekuasaan. Jangan jegal sesama rekan politisi, apa lagi rekan sesama partai. Tak elok itu. Jika melihat rekan kita lebih populer, jangan sirik. Justru maksimalkan kemampuan dan citra kita sendiri, maka elektabilitas kita akan naik juga,” pungkas Horas.

About admin

Check Also

Penyelesaian Pembayaran Polis Nasabah Asuransi Kresna

PT Asuransi Jiwa Kresna (Kresna Life) menyampaikan kembali Jadwal Rencana Penyelesaian Polis PIK dan K-LITA …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

if (function_exists('rns_reactions')) { rns_reactions(); }