Home / Berita dalam peristiwa / Kunci Sukses Pariwisata Bertransformasi Menjadi 7 A

Kunci Sukses Pariwisata Bertransformasi Menjadi 7 A

Pakar Ekonomi Pariwisata dan Koperasi Digital Chandra Vokav Saritua, MBA saat menyampaikan Kuliah Umum di Akademi Pariwisata ULCLA Toba, Tarutung, Tapanuli Utara

Akhir Januari 2020 ini akan jadi momentum 100 hari masa kerja para menteri Kabinet Indonesia Maju. Dari pantauan terkini, terlihat salah satu fokus pemerintahan Jokowi-Ma’ruf periode 2019-2024 adalah pengembangan pariwisata sebagai andalan penyerapan devisa serta aplikasi teknologi & digital atas konsekuensi revolusi industri 4.0.

Fokus strategi pemerintah atas revitalisasi pariwisata mendapat perhatian intens dan meluas dari masyarakat. Ini wajar, sebab baru mulai di masa Presiden Jokowi lah, Indonesia fokus perhatian pada sektor pariwisata, biarpun tertinggal dari negara tetangga Thailand, Malaysia, juga Singapura.

Kalangan praktisi dan akademisi pun tidak kalah angkat bicara menanggapi hal itu. Dewan Pembina Akademi Pariwisata (Akpar) ULCLA Toba Chandra Vokav Saritua mengatakan bahwa diperlukan terobosan pamungkas untuk merevitalisasi pariwisata Indonesia hingga layak jadi sektor unggulan.

“Kondisi ketatnya persaingan global serta perilaku masyarakat yang berubah di jaman Revolusi Industri 4.0, menuntut kita kritis & detil berstrategi berdasar preferensi pasar,” ujar Chandra Vokav ditemui setelah Kick-Off 2020 Meeting Akademi Pariwisata ULCLA Toba di Tarutung, Jumat (17/01/2020).

“Jadi yang selama ini kita kenal kunci 3A of Tourism, sudah out of date itu. Sekarang ini sudah bertransformasi jadi 7A of Tourism,” tambah Chandra yang dikenal juga sebagai Pakar Ekonomi Pariwisata & Koperasi Digital.

Chandra menjelaskan bahwa 7A of Tourism adalah perluasan dari 3A of Tourism yang selama ini dikenal yaitu Access, Attraction, dan Ammenities. Sedangkan 4A lain adalah elaborasi & penajaman aspek tersebut yaitu Activities, Attitude, Ambience & Accelerator.

“Hasil riset Akpar ULCLA Toba menemukan bila kita terus terpaku pada 3A, tidak akan bisa mengejar ketinggalan Indonesia dari negara lain yang lebih dulu fokus pada pariwisata. Jadi 7A of tourism ini lebih holistik dan komprehensif jadi analisa peningkatan pariwisata Indonesia bersaing di kancah global,” kata Chandra saat menyampaikan Kuliah Umum berjudul Seven A’s of Tourism Transformation.

*Seven A’s of Tourism*

Dalam kuliah umumnya, Chandra menerangkan bahwa aspek Activities harus mendapatkan perhatian serius terpisah dari aspek Attraction. Hal ini diyakini karena aspek Activities lah yang akan membuat wisatawan lebih betah lama tinggal di sebuah destinasi wisata dan tentu spending lebih banyak membawa devisa.

“Selain atraksi keindahan alam destinasi wisata, wisatawan pasti akan berpikir untuk melakukan aktivitas yang unik dan orisinil. Aspek aktivitas inilah pula akan melibatkan masyarakat sekitar destinasi wisata untuk melakukan usaha di bidang ekonomi kreatif guna peningkatan kesejahteraan daerah,” jelas Chandra, juga Ketua Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Nasari Syariah ini.

Selanjutnya terkait aspek Ambience dan Attitude, ia memberi penekanan pada kedua aspek ini karena saling berhubungan dan menguatkan. Chandra berkata dalam kedua aspek sentral inilah butuh tekad kuat dari masyarakat bahwa daerahnya akan lebih sejahtera apabila mampu memberi kesan baik kepada wisatawan yang datang hingga terjadi repeat order dan bahkan referral.

Dengan contoh wilayah Danau Toba yang ditetapkan sebagai destinasi super prioritas kelas dunia, Pakar Ekonomi Pariwisata dan Koperasi Digital ini mengajak para pihak harus berjalan bersama dan seiring untuk memperkuat aspek Ambience dan Attitude di wilayah Danau Toba. Masyarakat harus teredukasi untuk memiliki budaya sadar wisata, di mana hospitality meliputi sopan santun dan melayani menjadi poin krusial.

“Sebagai satu-satunya perguruan tinggi pariwisata berbasis vokasi di wilayah Danau Toba, Akpar ULCLA Toba merasa memiliki tanggung jawab moral untuk membentuk masyarakat memiliki budaya sadar wisata. Oleh karena itu kami mengajak semua pihak terlibat bersama, harus adanya harmonisasi dari Kemenpar, BODT, dan 7 Pemda sekitar Danau Toba,” seru lulusan MBA dari University of California Los Angeles, USA ini.

Lalu terkait aspek Accelerator, Chandra melihat marketing digital akan memegan peranan penting. Biarpun strategi marketing lain juga berjalan seiring saling melengkapi. Event Internasional yang spektakuler akan sangat jitu mengenalkan destinasi wisata super prioritas Indonesia. Perpaduan kuat dengan marketing digital akan mendorong sukses pariwisata sebagai sektor andalan

“Selain event di lokasi destinasi, jangan lupa juga promosi di event akbar internasional yang telah mendunia, seperti Piala Eropa 2020 yang diselenggarakan di 12 negara Eropa, juga Olimpiade 2020 di Jepang. Bila ini diperkuat juga dengan marketing digital yang mumpuni, niscaya akan mempercepat pencapaian pariwisata Indonesia di kancah global,” pungkas Chandra yang juga inovator Koperasi Digital Indonesia.

About admin

Check Also

INILAH KESERUAN PAULA DAN NENEK IRO SAAT BERBELANJA DI TOKO BATIK TERBESAR DI INDONESIA !

Nama Baim wong dan Paula Vanhoeven belakangan ini semakin melambung dan banyak mendapat pemberitaan di …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

if (function_exists('rns_reactions')) { rns_reactions(); }