Home / Berita dalam peristiwa / GO Indonesia: Tantangan Wishnutama Dan Angela Menjadikan Indonesia Tujuan Utama Wisata Dunia.

GO Indonesia: Tantangan Wishnutama Dan Angela Menjadikan Indonesia Tujuan Utama Wisata Dunia.

Sektor pariwisata telah menjadi penyumbang devisa terbesar di Indonesia di tahun 2018, yaitu sebesar USD 17,6 miliar. Angka ini setara dengan Crude Palm Oil (CPO). Capaian ini mendorong pengamat mendesak Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) memperhatikan serius sektor pariwisata.

Ketua Bidang Analisis Kebijakan Publik Generasi Optimis (GO) Indonesia, Bayu Endro Winarko, MBA, mengatakan, “Dari sisi daya saing, tahun 2019 peringkat Indeks Daya Saing Pariwisata Indonesia di dunia berada di peringkat 40, naik dari peringkat 42 di tahun 2017.” Grand Wijaya, Jakarta, Minggu (03/11/2019).

“Berdasarkan Laporan The Travel & Tourism Competitiveness Report yang dirilis WEF (World Economic Forum, red) 2019 baru-baru ini, di kawasan Asia Tenggara, Indeks Daya Saing Pariwisata Indonesia berada di peringkat 4 berdasarkan penilaian pilar-pilar seperti lingkungan bisnis, keamanan, kesehatan dan kebersihan, sumber daya manusia dan lapangan kerja, keberlanjutan lingkungan dan lainnya,” terang Bayu.

Pakar marketing dan pariwisata halal itu juga menilai banyak strategi dan inisiatif telah dilakukan oleh Menteri Pariwisata sebelumnya yang membuat sektor ini menjadi salah satu sumber devisa negara terbesar.

Bayu mengatakan, “Pekerjaan rumah selanjutnya akan menjadi tanggung jawab duet Wishnutama Kusubandio yang notabene adalah generasi X dan Angela Tanoesudibjo dari generasi millennial.”

Generasi Optimis Indonesia menilai penunjukan Wishnu dan Angela sebagai Menteri dan Wakil Menteri sangat menarik karena latar belakang keduanya sebagai pengusaha dari industri media.

Seperti diketahui, Wishnutama adalah pengusaha di bidang pertelevisian yang sempat memimpin media televisi ternama di Indonesia, TransTV dan Net TV. Sedangkan Angela sebelumnya adalah direksi dan komisaris di jajaran MNC Group, salah satu group perusahaan media terbedar di Indonesia.

“Tantangannya sekarang, apakah mereka bisa menyelesaikan target yang telah ditetapkan di 2024, yaitu perolehan nilai devisa 40 milyar USD? Juga mendatangkan 28 juta wisman mancanegara plus 300 juta wisatawan lokal, penyediaan tenaga kerja wisata 15 juta orang, memberikan kontribusi PDB 5,5%, dan meningkatkan Tourism Competitive Index menjadi peringkat 22?” Bayu berujar.

Ia mengaku, dengan latar belakang prestasi duet pimpinan di Kemenparekraf tersebut sangat mungkin akan membuat perubahan besar di industri pariwisata.

Bayu menambahkan setidaknya ada lima isu strategis indusri pariwisata yang harus diselesaikan dalam waktu dekat.

“Pertama, bagaimana meningkatkan perdapatan devisa terkait pengeluaran dan lama masa tinggal wisatawan mancanegara.

Kedua pengembangan program-program untuk meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia yang masih rendah, secara global masih 1,1%, di Asia Pasific 4,3%, dan Asia Tenggara 11,7%,” terang Bayu.

Ia melanjutkan, “Ketiga, program peningkatkan kesiapan dan daya dukung destinasi wisata, seperti situasi keamanan, transportasi, hotel, akomodasi, dan kesiapan masyarakat menyambut tamu di daerah mereka. Kempat, adanya program peningkatan kualitas, profesionalisme, dan jumlah SDM pariwisata.

Dan terakhir pembenahan infrastruktur dan konektifitas yang mudah dan nyaman bagi wisatawan mancanegara, pungkas Bayu yang pernah menjadi tim ahli Tourism 4.0.”

Bayu mendorong Whisnu dan Angela belajar dari Portugal yang sukses menjadi The World’s Leading Destination.

“Kita bisa mengadopsi dan mengadaptasi cara Portugal. Setidaknya arah kebijakan boleh diarahkan kepada peningkatan ekosistem usaha pariwisata termasuk menyesuaikan dengan era Tourism 4.0,” kata pria asal Jombang, Jawa Timur itu.

Peningkatan Access, Amenity, dan Attraction serta kenyamanan dan keamanan lingkungan destinasi pariwisata, menurut Bayu juga perlu mendapat perhatian khusus.

“Peningkatan citra melalui komunikasi pemasaran yang terintegrasi dan pembangunan SDM pariwisata, juga harus ditingkatkan. Manusia harus menjadi jantung industri pariwisata dan sudah selayaknya menjadi prioritas kebijakan Kemenparekraf,” kata Bayu.

Pada saat yang sama, Tigor Mulo Horas Sinaga, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Generasi Optimis Indonesia melihat, dengan prestasi yang dimiliki Wishnutama, termasuk kesuksesannya sebagai anggota tim penyelenggara event Asian Games 2019, ia niscaya memberikan terobosan dalam pembangunan sektor Pariwisata di Indonesia.

“Selain itu, didampingi oleh Sis Angela yang berlatar belakang pengusaha milenial, maka mereka akan saling melengkapi dalam memimpin kementerian yang sekarang menjadi salah satu penghasil devisa terbesar,” kata Horas.

Pemerhati intelijen dan politik itu menambahkan, “Jangan lupa, potensi pengunjung pariwisata ke depan adalah generasi milenial. Saya akan mendukung duo pimpinan Kemenparekraf ini agar berhasil mencapai tugas mereka dengan selalu memberikan masukan yang konstuktif. Bukan menyebut mereka sebagai pemimpin Kementerian Pariwara.”

“Kami optimis pariwisata dan ekonomi kreatif kita akan bertumbuh signifikan dalam tangan dingin Bro Wishnu dan Sis Angela,” pungkas Horas.

About admin

Check Also

Penyelesaian Pembayaran Polis Nasabah Asuransi Kresna

PT Asuransi Jiwa Kresna (Kresna Life) menyampaikan kembali Jadwal Rencana Penyelesaian Polis PIK dan K-LITA …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

if (function_exists('rns_reactions')) { rns_reactions(); }